Saberpungli Com – Lampung Selatan
Pagi langit Menara Siger seakan lebih biru dari biasanya. Di antara ribuan pasang mata yang memandang penuh khidmat, seorang remaja berdiri tegak. Tubuhnya masih muda, langkahnya penuh getar semangat, namun di balik dada yang dibusungkan, tersimpan riak haru yang nyaris tak bisa ia bendung. Dialah Muhammad Rizky Prasetyawan, siswa SMKN 1 Kalianda, yang mendapat amanah suci: mengibarkan Sang Merah Putih di hari ulang tahun ke-80 Republik Indonesia. Minggu 17 Agustus 2025.
Bagi Rizky, momen itu bukan sekadar tugas barisan, melainkan sebuah perjalanan batin. Ia teringat hari-hari panjang sejak 9 Agustus, saat dirinya digembleng disiplin. Panas terik membakar kulit, otot-otot kaki nyeri menahan baris-berbaris, dan rasa rindu yang sesekali menyergap dadanya pada keluarga di rumah. Namun, setiap kali keringat menetes, ia membisikkan doa dalam hati: “Ini untuk Indonesia. Ini untuk orang tua. Ini untuk semua yang percaya pada aku.”
Rizky lahir di Tangerang pada 12 Maret 2009, namun besar di Dusun Banyumas, Desa Agom, sebuah kampung kecil di kaki Kalianda. Anak sulung dari pasangan Hari Prasetyo dan Susimah ini tumbuh dalam kesederhanaan. Ia terbiasa membantu ibunya menyapu halaman sebelum berangkat sekolah. Ia terbiasa berpamitan dengan mencium tangan sang ibu—sebuah kebiasaan kecil, namun bagi Susimah, itu adalah doa paling tulus yang tiap hari ia titipkan pada anaknya.
“Jaga dirimu baik-baik, Nak. Semoga langkahmu selalu dalam lindungan Allah,” bisik ibunya suatu pagi, beberapa hari sebelum ia masuk karantina latihan. Kata-kata sederhana itu menancap dalam hati Rizky, menjadi kompas di tengah rasa lelah yang hampir meruntuhkan semangat.
Di sekolah, Rizky bukan hanya sekadar pelajar. Ia aktif di Paskibra, OSIS, Pramuka, Saka Bhayangkara, bahkan KPA Parimba Katankye. Namun, semua aktivitas itu baginya hanyalah jalan untuk menempa diri. Ia percaya, bahwa pemuda harus siap menghadapi tantangan—dengan disiplin, cinta, dan pengorbanan.
Dan pagi itu, di Menara Siger, ketika Sang Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang, suasana hening menyelimuti lapangan. Angin membawa kibaran bendera, seolah ikut bercerita tentang perjuangan para pahlawan, dan tentang seorang anak desa yang kini mengibarkan simbol kemerdekaan bangsanya.
Air mata jatuh, tidak hanya dari mata penonton, tetapi juga dari kedua orang tua Rizky yang berdiri di antara kerumunan. Mereka menatap anak yang dulu mereka gendong dengan tangan sederhana, kini berdiri gagah menorehkan sejarah kecil.
“Dia bukan hanya mengibarkan bendera, tapi juga doa kami yang terjawab,” ucap sang ayah dengan suara bergetar.
Kisah Rizky adalah kisah kita semua. Tentang bagaimana cinta, doa, dan kerja keras bisa mengantarkan seorang anak bangsa menuju panggung kehormatan. Dari dusun kecil, ia mengajarkan bahwa tidak ada keterbatasan yang bisa menghentikan tekad.
Merah Putih yang berkibar di Menara Siger hari itu bukan hanya simbol kemerdekaan, tapi juga cermin dari hati seorang pemuda yang penuh harapan.
( Kurdi )












