SaberPungli Com – Tanggamus .Di balik hamparan alam hijau yang subur dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hasil bumi, tersimpan penderitaan panjang yang hingga kini belum menemukan ujung penyelesaian.
Jembatan penghubung antara Dusun Tanjung Jaya, Pekon Banjarmanis menuju Dusun Tanjung Harapan, Pekon Tanjung Betuah, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, masih menjadi harapan yang menggantung di tengah penantian masyarakat. Kamis , 14 Mei 2026.
Jembatan itu bukan sekadar sarana penghubung biasa. Ia merupakan denyut kehidupan masyarakat desa—jalur anak-anak menuju sekolah, akses petani membawa hasil panen, hingga penghubung utama roda ekonomi warga. Namun ironisnya, selama puluhan tahun, akses vital tersebut belum pernah benar-benar tersentuh pembangunan yang layak.
Setiap kali musim hujan datang, penderitaan warga kembali terulang. Sungai yang meluap membuat akses lumpuh total. Anak-anak sekolah terpaksa berhenti melangkah karena takut diterjang arus. Jalan tanah yang licin dan berlumpur memperparah keadaan, seolah menjadi simbol nyata ketertinggalan yang terus menghantui masyarakat pelosok.
“Kalau banjir, tidak bisa lewat sama sekali. Anak-anak tidak bisa sekolah, warga juga tidak bisa membawa hasil bumi,” ungkap Kurdi, warga setempat, dengan nada lirih penuh harap.
Kondisi itu dirasakan langsung oleh para pelajar yang hendak menuju SD Negeri Tanjung Betuah hingga mereka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, SMA, dan SMK. Di tengah keterbatasan, anak-anak desa harus berjuang melawan lumpur, hujan, dan derasnya arus sungai demi mengejar pendidikan.
Bukan hanya pendidikan yang terdampak. Jalur tersebut juga menjadi satu-satunya akses bagi petani dalam mengangkut hasil bumi seperti kopi dan hasil perkebunan lainnya. Ketika akses terputus, hasil panen tertahan, harga jual menurun, dan ekonomi masyarakat pun ikut tercekik.
Potret itu menjadi gambaran nyata bahwa masih ada wilayah yang tertinggal dari perhatian pembangunan. Di saat daerah lain menikmati infrastruktur modern, masyarakat di dua dusun tersebut masih harus bertaruh dengan jalan rusak dan jembatan yang tak kunjung dibangun.
Meski hidup dalam keterbatasan, masyarakat tetap menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa. Dalam percakapan bersama salah satu anggota DPRD Kabupaten Tanggamus, Rahman Agus, warga menyampaikan harapan sederhana mereka.
“Sabar bang.. Kita nanti akan ajukan melalui pokir melalui dinas terkait. Semoga segera dapat menjadi perhatian dari pemerintah,” ujar Rahman Agus menanggapi aspirasi masyarakat.
Jawaban itu disambut penuh harapan oleh warga. Mereka bahkan menegaskan bahwa kebutuhan awal pembangunan sebenarnya tidak terlalu besar.
“Cuma kasih aja semen sama pasir, paling pasir empat mobil sama semen 15 sak jadi,” ujar warga.
Menurut masyarakat, selebihnya mereka siap bekerja bersama secara swadaya demi membangun akses yang telah lama dinantikan.
“Ini dari masyarakat pak dewan karena mereka sangat membutuhkan. Selebihnya masyarakat akan gotong royong,” lanjut warga dengan penuh ketulusan.
Harapan masyarakat sebenarnya sangat sederhana. Mereka tidak meminta kemewahan ataupun proyek besar bernilai miliaran rupiah. Mereka hanya ingin sebuah jembatan yang layak—jembatan yang mampu menghubungkan anak-anak dengan pendidikan, petani dengan penghidupan, dan masyarakat dengan masa depan yang lebih baik.
Kini, dari tepian sungai di pelosok Cukuh Balak, suara-suara kecil itu kembali menggema. Dari langkah kaki anak sekolah yang tertahan, dari petani yang menunggu akses terbuka, hingga dari warga yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, semuanya menyuarakan satu harapan yang sama: hadirnya perhatian nyata sebelum mimpi dan masa depan mereka benar-benar hanyut bersama derasnya arus sungai.( Kurdi)










