SaberPungli Com – Tanggamus Di balik sunyinya sebuah rumah sederhana di Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, tersimpan kisah pilu yang menyayat hati. Dua anak yang seharusnya masih sibuk belajar dan mengejar cita-cita, kini hanya bisa memandangi seragam sekolah mereka yang mulai usang tanpa lagi dapat dipakai ke ruang kelas.Rabu (20/5/2026),
Suasana haru menyelimuti kediaman Erna alias Jumnah, seorang ibu yang kini hanya bisa menahan air mata melihat masa depan kedua anaknya perlahan terhenti oleh kerasnya keadaan ekonomi.
Rendi (13) dan Rena (15), dua anak yang masih berada di usia sekolah, terpaksa putus pendidikan karena keluarga mereka tidak lagi mampu membayar kebutuhan sekolah dan biaya hidup sehari-hari.
Erna mengaku hidupnya berubah setelah dirinya mengalami gangguan kesehatan. Ia menderita hipertensi disertai gejala stroke yang membuat tubuhnya tak lagi kuat bekerja seperti dahulu.
Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, Erna mengungkapkan kepedihannya saat ditemui wartawan di rumahnya.
“Sekarang saya sudah tidak sanggup bekerja seperti dulu. Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi biaya sekolah anak,” ucapnya penuh kesedihan.
Ucapan itu bukan sekadar keluhan seorang ibu. Itu adalah jeritan hati seorang perempuan yang merasa gagal mempertahankan pendidikan anak-anaknya di tengah himpitan kemiskinan dan sakit yang terus menggerogoti tubuhnya.
Di sudut rumah yang sederhana, Rendi dan Rena tampak hanya bisa diam. Tatapan mereka kosong saat membicarakan sekolah yang kini hanya tinggal kenangan. Namun di balik diam itu, tersimpan harapan yang belum benar-benar padam.“Kami masih ingin sekolah,” ujar keduanya pelan, seolah menahan rasa malu sekaligus harapan agar ada yang mendengar.
Kalimat singkat itu menjadi tamparan keras bagi nurani banyak pihak. Di saat sebagian anak dapat belajar dengan nyaman, masih ada anak-anak di pelosok daerah yang harus mengubur mimpi hanya karena kemiskinan.
Erna mengaku hingga kini keluarganya belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan langsung tunai yang seharusnya dapat sedikit meringankan beban hidup mereka.
Ia berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial, agar kedua anaknya bisa kembali melanjutkan sekolah.
“Saya hanya ingin anak-anak saya bisa sekolah lagi dan punya masa depan,” katanya sambil menahan tangis.
Kondisi keluarga tersebut kini menjadi perhatian warga sekitar. Banyak warga merasa prihatin karena di tengah berbagai program bantuan pemerintah, masih ada anak-anak yang terpaksa meninggalkan bangku pendidikan akibat persoalan ekonomi.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan solusi nyata, baik melalui bantuan pendidikan, bantuan sosial, maupun pendampingan kesehatan bagi keluarga tersebut.
Sebab bagi Rendi dan Rena, sekolah bukan hanya tempat belajar. Sekolah adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang kini membelenggu keluarga mereka.( Kurdi)












